Thursday, October 4, 2018

Pengalaman Mendaftar Swedish Institute Study Scholarships (SISS) 2018

Halo semuanya! Di post kali ini aku akan menyambung post sebelumnya mengenai perjuangan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, khususnya dalam hal mendaftar beasiswa. Sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa AAS, aku sempat mendaftar beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Swedia untuk jenjang studi master, yaitu Swedish Institute Study Scholarships. Karena saat ini semakin mendekati bulan-bulan pendaftaran, semoga post ini berguna untuk teman-teman yang ingin mencoba :)

Kenapa Swedia? Mungkin di post sebelumnya aku sudah menyebutkan bahwa sebenarnya aku ingin sekali pergi sekolah ke Eropa karna it’s totally a new thing for me. Sehingga pada saat itu aku mencari beberapa beasiswa yang memungkinkan aku untuk sekolah disana. Ada tiga negara yang menjadi targetku pada saat itu, yaitu UK melalui Chevening, Belanda melalui Stuned, dan Swedia melalui SISS. Well, Swedia adalah negara yang penuh dengan inovasi. Meskipun universitas yang ada disana tidak terlalu tersorot seperti kebanyakan kampus di UK, tapi membayangkan lingkungan dan pemandangan yang indah di Swedia rasanya menyenangkan sekali. Disamping urusan akademis, tentu saja pengalaman adalah sesuatu yang sangat berharga. Jadi banyak sekali hal yang bisa dijadikan pertimbangan dalam hal memilih sekolah dan negara mana yang ingin didatangi.

Aku tau beasiswa ini sejak ada di bangku kuliah S1 dan memang sudah punya rencana untuk mencoba. Di bulan Desember 2017, ketika aku sudah ada di Jakarta, aku datang ke acara Study in Sweden – Admissions Walkthrough Sessions di Swedish Residence atau Rumah Duta Besar Swedia. Disana peserta diberi penjelasan mengenai negara Swedia, sistem pendidikan di Swedia, cara pendaftaran ke universitas, dll. Kami juga diberi tips dan trik bagaimana cara untuk lolos seleksi beasiswa baik LPDP maupun SISS, beasiswa yang memungkinkan kita untuk sekolah di Swedia. Disana kami diberi sesi tanya jawab dengan para alumni yang sangat ramah dan baik hati. Pokoknya acara ini sangat bermanfaat. 

Dan acara itu menjadi bekal untuk mencoba mendaftar beasiswa SISS. Prinsipku adalah coba saja dulu. Karna kita tidak tahu usaha mana dan yang keberapa yang akan berhasil. Yang pasti kita harus berusaha dan berdoa. Ketika Allah sudah berkehendak, insyaAllah akan dimudahkan. 

Untuk kalian yang ingin tau lebih lanjut mengenai Study in Sweden, bisa dilihat di link ini: https://studyinsweden.se/

Selanjutnya, informasi lengkap beasiswa SISS bisa dilihat di sini:
 
Di link di atas, teman-teman bisa melihat biaya-biaya apa saja yang dicover, syarat-syarat pendaftaran, timeline, dokumen apa saja yang diperlukan, dll.
Apa saja sih step-step yang harus dilakukan dalam mendaftar beasiswa ini? 

1. Mendaftar ke program master di University Admissions
    (16 Oktober 2017–15 Januari 2018)

Sedikit berbeda dengan kebanyakan negara lain, proses pendaftaran ke universitas di Swedia dilakukan melalui satu pintu seperti yang kita lakukan ketika mendaftar ke perguruan tinggi negeri di jenjang S1 lewat SNMPTN. Untuk mendaftar ke universitas di Swedia, kita harus melakukannya melalui https://www.universityadmissions.se/en/
Berikut adalah portal yang digunakan.


Melalui portal ini, kita diperbolehkan mendaftar hingga 4 universitas di Swedia yang dapat kita urutkan berdasarkan prioritas. Semua dokumen yang diperlukan juga diupload pada portal yang sama. Kita diwajibkan mengupload dokumen English language proficiency, ID, degree certificate, transcript, dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan oleh masing-masing universitas. Kalian juga harus melakukan research ke masing-masing universitass mengenai persyaratan pendaftarannya karena biasanya persyaratannya berbeda dari satu universitas ke universitas lain. Untuk membedakan dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan oleh universitas tertentu, kalian bisa memberi nama yang berbeda untuk setiap dokumen yang diupload seperti yang aku lakukan di bawah ini




Aku pribadi mendaftar ke empat universitas berbeda, yaitu Uppsala University, Lund University, KTH Royal Insitute of Technology, dan Chalmers University of Technology. Oiya, untuk bisa mendaftar ke universitas ini kita dikenakan biaya sebesar 900 SEK yang harus kita bayar menggunakan kartu kredit. Dengan membayar sejumlah uang tersebut, kita bisa memulai aplikasi di portal universityadmission dan mendaftar ke empat universitas pilihan. 

Yang perlu diperhatikan adalah eligible programmes yang ditawarkan oleh beasiswa SISS dapat berbeda setiap tahunnya. Jadi pastikan kalian mengecek apakah bidang studi yang ingin kalian daftar memungkinkan untuk juga didaftarkan pada beasiswa SISS. Biasanya program yang eligible akan diumumkan di website pada awal Desember. Bidang prioritas yang ditawarkan juga bisa berbeda dari tahun ke tahun. Untuk tahun lalu, bidang prioritasnya adalah seputar gender equality, sustainable development, democracy, human rights, or poverty reduction.

2. Mendaftar beasiswa SISS (2-9 Februari 2018)
Pendaftaran beasiswa SISS bisa dilakukan melalui portal online SISS, tapi portal tersebut tidak aktif ketika bukan periode pendaftaran. Sayang sekali aku juga tidak punya dokumentasi tentang portal tersebut. Periode pendaftarannya memang sangat singkat, tapi SISS melalui website si.se. akan memberikan template dokumen yang harus disubmit. Jadi tentu saja kita bisa menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Template dokumennya bisa saja berbeda dari tahun ke tahun, jadi meskipun kalian sudah memiliki template dokumen tahun sebelumnya, pastikan juga untuk mengecek versi terbarunya. Dokumen-dokumen yang dibutuhkan antara lain motivation letter, CV, 2 reference letters, proof of work and leadership experience, dan passport. 

Seleksi beasiswa SISS hanyalah berdasarkan pada seleksi dokumen, sehingga apa yang kita submit di website harus dipersiapkan sebaik mungkin karena tidak akan ada kesempatan untuk bertatap muka dengan penyeleksi. 

a. Motivation Letter
Format motivation letter dari SISS biasanya keluar pada bulan Januari. Ada data diri yang harus diisi dalam template motivation letter tersebut. Selanjutnya, kita juga harus menjawab beberapa pertanyaan secara singkat, seperti
  • Are you active in any network/organisation/project aiming to influence development in your home country? If yes, please state the name of the network/organisation/project and the website (if applicable).
  • Choose one of the UN Sustainable Development Goals (SDG) from the list below and describe your professional position and/or engagement in a network/civil society organisation relates to that goal. (max 1000 characters incl. spaces)
  • Describe using concrete examples, how the master’s programme you plan to study in Sweden will contribute to your ability to address the UN SDG you have chosen. (max 800 characters incl. spaces)
  • Using concrete examples, describe what makes you an experienced leader and how you intend to develop your leadership skills further with an SI Study Scholarship. (max 700 characters incl. spaces) 
  • What are your professional goals 3-5 years after your studies in Sweden and how will your time in Sweden help you with reaching those goals (max 700 characters incl. spaces).  
SISS mencari orang yang bisa berkontribusi untuk negaranya dalam mengembangkan sustainable development. Bicara soal sustainable development, bidangnya sangatlah luas. Jadi dimanapun kita bekerja, pasti bisa dikaitkan dengan sustainable goals. Dilihat dari jumlah karakter yang diizinkan dalam menulis motivation letter ini, kita harus benar-benar merenungkan apa inti dari apa yang ingin kita tulis. Aku sendiri sangat kesulitan untuk benar-benar menuliskan sesuatu yang bisa meyakinkan. Dalam hal ini, aku minta tolong ke bebarapa orang untuk melakukan proofreading.

b. CV 
Untuk CV, SISS juga menyediakan template khusus yang akan keluar pada bulan Desember. Tapi biasanya menggunakan CV Europass yang terdiri dari 3 halaman. Jadi kalian bisa menyiapkannya dari jauh-jauh hari.

c. Two different letters of reference
Dua reference letters yang berbeda bisa didapatkan dari supervisor di kampus, supervisor di tempat kerja, maupun supervisor di organisasi tempat kita bergabung. Template dari SISS juga akan keluar pada bulan Desember. Reference letter ini harus ditandatangani oleh penyedia referensi disertai dengan cap instansi. Pastikan pemberi referensi adalah orang yang benar-benar mengenal kalian sehingga informasi yang diberikan bisa komprehensif dan mendukung. Pertanyaan yang ada di template adalah meliputi:
  • In your opinion, how would an SI Scholarship for master’s studies in Sweden be valuable for the professional and academic development of the applicant.
  • Briefly comment on the applicant’s potential to contribute to and/or drive social changes in his/her context.
  • Please evaluate the applicant’s leadership capacity and potential to play a role in development of the society (e.g. networking, motivation and perseverance; problem solving and communication). Please give a concrete example.
d. Proof of work and leadership experience
SISS mewajibkan pelamarnya untuk memiliki minimal 3000 jam pengalaman kerja yang terhitung hingga tanggal 1 Februari di tahun kita mendaftar. Pekerjaan yang dimaksud bisa meliputi full-time job, part-time job, voluntary work, internsip, bahkan posisi penting dalam sebuah organisasi. Hanya pengalaman kerja setelah SMA saja yang akan dipertimbangkan.  Selanjutnya, pekerjaan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals yang akan menjadi prioritas. Pengalaman bekerja dan kepemimpinan yang kita miliki harus dibuktikan dengan dokumen yang templatenya disediakan oleh SISS. Dokumen tersebut harus diisi oleh supervisor pekerjaan kita disertai tanda tangan dan cap instansi. Disitu juga harus dituliskan mengenai pekerjaan yang dilakukan secara spesifik. Berdasarkan pengalamanku pribadi, ini yang agak memerlukan perjuangan karena kita harus menghubungi pihak-pihak terkait untuk membantu melengkapi dokumen tersebut. Dokumen-dokumen yang kita submit adalah kunci utama dalam seleksi beasiswa ini. Jadi pastikan semuanya disiapkan dengan sebaik-baiknya dari segi konten dan kelengkapan.

3. Notifikasi lolos universitas dari University Admissions (6 April 2018)
Pada pertengahan April, kita akan mendapatkan pengumuman kelulusan dari University Admissions apakah kita diterima atau tidak di universitas yang kita daftar. Ketika kita lolos di pilihan pertama, maka otomatis ketiga pilihan di bawahnya akan terhapus. Pada saat itu, aku mendapatkan kabar bahwa aku diterima di Uppsala University dengan jurusan Master of Industrial Management and Innovation. Sangat senang untuk sesaat. Setelah pengumuman, aku mendapatkan email dari Mbak Amreta Sidik yang juga aku temui di acara yang aku datangi di bulan Desember. Email tersebut mengenai ajakan untuk bergabung di grup-grup pelajar Swedia dan berbagai persiapan keberangkatan yang diperlukan. Dari pihak Uppsala sendiri, aku juga dihubungi oleh student representative dari Indonesia yang kebetulan ada di jurusan yang sama dengan yang aku daftar. Mas XX yang aku lupa namanya hehe mengatakan bahwa dia akan membantuku dalam menyiapkan studi ke Uppsala. Namun pada saat itu, karena belum ada pengumuman dari beasiswanya, aku mengatakan bahwa aku belum bisa memberi kepastian apakah benar aku akan melanjutkan studi di Swedia.






4. Pengumuman penerima beasiswa SISS (27 April 2018)
Hari pengumuman pun tiba. List penerima beasiswa diumukan di website. Dari Indonesia sendiri untuk tahun 2018 hanya diambil 14 orang penerima beasiswa. Well, jadi persaingannya sangat ketat. Nomor pendaftaranku tidak ada di dalam list tersebut. Ketika membuka pengumuman, rasanya sedih banget mengingat perjuangan ini itu dan harus balik ke Jogja demi melengkapi semua persyaratannya. Setelah mengabari keluarga dan orang terdekat (pada masanya hahaha), akhirnya tetap harus move on dan berusaha lagi untuk kesempatan yang lain. Setelah menerima pengumuman penerima beasiswa, aku kemudian menginformasikan pihak Uppsala melalui email dan me-reject offer yang ada di portal University Admission.





Yup, begitulah pengalamanku mendaftar beasiswa SISS. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mencoba beasiswa SISS. Goodluck! :)


Tuesday, September 11, 2018

Studi ke Luar Negeri? Apa Persiapan yang Harus Dilakukan?

Halo semuanya! Setelah bekerja selama satu tahun, Alhamdulillah insyaAllah awal tahun depan aku diberi kesempatan untuk kembali ke bangku kuliah lewat Australia Awards Scholarship(AAS). Saat ini aku sedang mengikuti persiapan keberangkatan dan akan memulai aplikasi ke universitas. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Aamiin... Di blog ini, aku akan berbagi cerita mengenai persiapan dan perjuangan yang aku lakukan untuk mendapatkan beasiswa. Aku banyak sekali terbantu dengan membaca blog-blog para alumni dan teman-teman sesama pencari beasiswa, maupun melihat video yang ada di youtube. Jadi aku ingin sekali berbagi pengalaman yang aku lakukan agar bisa bermanfaat untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk melanjutkan studi lanjut ke luar negeri. I do hope it will be helpful for you.

Di post kali ini, aku akan bercerita mengenai persiapan-persiapan yang aku lakukan. Untuk AAS journey akan aku share setelah semua urusan administrasi dan pre departure training ini selesai ya supaya aku bisa bercerita secara lengkap. So, stay tune!

Jadi apa saja persiapan yang aku lakukan?

1. English proficiency test


Ini hal yang sangat krusial karna pasti dibutuhkan di setiap pendaftaran beasiswa dan ujung-ujungnya pun akan dipakai untuk mendaftar di universitas. Ada berbagai macam jenis tes bahasa Inggris. Rata-rata untuk mendaftar beasiswa sendiri, boleh pakai berbagai macam test seperti IELTS, TOEFL IBT, TOEIC, bahkan untuk beasiswa AAS diperbolehkan untuk memakai TOEFL ITP. Tapi saranku, kalian research dulu apa tes yang dibutuhkan oleh kampus tujuan utama kalian. Jadi dari awal sudah bisa fokus dengan apa yang ingin diperdalam karna setiap tes memiliki karakteristik yang berbeda beda. Di Eropa rata-rata membutuhkan IELTS, sedangkan kalau kalian ingin pergi ke Amerika, TOEFL IBT lah yang dibutuhkan. Contoh simpelnya, TOEFL IBT itu computer based bahkan untuk speaking nya tapi IELTS lebih terasa real karna kita berhadapan langsung dengan penilainya. Untuk cari tahu perbedaan IELTS dan TOEFL kalian bisa langsung aja googling karna infonya pasti sangat banyak.

Teman-teman harus pelajari berapa minimum persyaratan yang dibutuhkan oleh kampus tujuan kalian. Dan keep aiming high. Buat aku masalah utama adalah writing. Waktu tes terakhir, aku perdalam writing skill-ku. Berikut adalah website dan youtube channel yang sangat membantuku meningkatkan kemampuan writing. Semoga membantu ;)

https://www.youtube.com/channel/UCglDIsg_Z9mE2oT9hsrbzFA 
https://www.ielts-exam.net/



Untuk speaking, aku download aplikasi di app store. Judulnya IELTS Speaking Assistant. Aplikasinya berbayar, tapi menurutku aplikasi ini sangat bagus untuk belajar topik-topik baru. Karna dalam IELTS topiknya sangat beragam. Ketika kita tidak tahu banyak soal topik tersebut, tentu saja akan sulit bagi kita untuk meng-improve lebih lanjut. Jadi menurutku, banyak membaca topik-topik baru sangatlah penting. Di aplikasi ini, topik-topik baru akan diupdate secara berkala. Dan kita bisa berlatih di semua kategori untuk speaking part 1,2, dan 3.

Menurutku kemampuan bahasa Inggris adalah soal kebiasaan. Semakin kita melatihnya, semakin kita akan terbiasa. InsyaAllah hasil tes merupakan modal kita untuk mencapai cita2 sekolah ke luar negeri.


2. List jurusan dan universitas yang diinginkan
Saranku, jangan terpaku dengan judul jurusannya saja. Benar2 pelajari silabus yang ditawarkan apakah benar-benar memenuhi kebutuhan kita? Dalam hal ini, aku benar2 riset ke setiap website kampus yang ada. Baca satu-satu dengan teliti :) Untuk mata kuliah elective, teman2 bisa perhatikan pre requisite dan co requisite nya untuk melihat seberapa fleksibel mata kuliah tersebut bisa dipilih. Jangan sampai temen2 ingin sekali mengambil mata kuliah tersebut, tapi pada praktiknya tidak bisa diambil karna harus ada syarat-syarat tertentu. Karna aku mendaftar untuk program master, jadi yang aku perhatikan adalah course nya. Untuk teman-teman yang mendaftar program Phd, pertimbangan-pertimbangan tentang riset dan supervisor adalah kunci yang utama.

3. List negara yang dituju dan penyedia beasiswa
Salah satu alasan kenapa ini penting buatku karna aku harus mendapatkan beasiswa untuk studi lanjutku. Bagi teman-teman yang tidak masalah dengan biaya atau bisa dibiayai oleh kantor, pasti akan jauh lebih mudah dan fleksibel. Kebanyakan dari kita terpaku dengan beasiswa-beasiswa yang ternama. Padahal di luar sana banyak sekali sumber-sumber beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Bagi teman-teman yang bisa melakukan co funding dengan penyedia beasiswa (misal membiayai living cost secara pribadi dengan tuition fee yang dibiayai pihak pemberi beasiswa), pasti kesempatan akan lebih terbuka lebar. Karna biasanya pihak kampus menyediakan beasiswa untuk tuition fee. Dulu waktu kuliah, aku beberapa kali mengikuti acara seminar tentang kuliah di luar negeri. Dari situlah aku mendapatkan insight bahwa sumber beasiswa ada banyak sekali. Ada satu website yang aku sering kunjungi dan setiap ada info beasiswa terbaru aku bisa mendapatkan notifikasinya di email.




Bagiku, semua negara maju memiliki pendidikan yang lebih baik. Jadi aku tidak terlalu masalah dengan negara yang dituju, meskipun sebenarnya target utamaku adalah ke Eropa hehehe. Tapi Allah sungguh Maha Baik. Subhanallah. Mungkin memang jalannya belum kesana. Aku sangat bersyukur insyaAllah aku akan kembali ke Australia, tempat dimana aku melakukan exchange program ketika masih SMA. Jadi besasiswa apa saja yang pernah menjadi listku?

  1. LPDP
  2. Stuned / Orange Tulip
  3. Chevening
  4. Endeavor
  5. Asian Development Bank Scholarship
  6. Fullbright
  7. Swedish Institute Scholarship
  8. Australia Awards Scholarship

Bagi para pencari beasiswa jangan bosan-bosan untuk sharing. Follow akun akun yang punya info menarik soal beasiswa seperti Indonesia Mengglobal. Mereka punya program mentorship dimana kita sebagai mentee yang akan apply universitas akan dipasangkan dengan mentor yang akan membimbing kita menulis essay, dll. Aku mencoba program ini 2 kali dan masih gagal hehehe. Kalau dipikir-pikir, mungkin memang sudah jalannya. Karna sebagai AAS awardee kita akan mendapatkan Pre Departure Training yang akan memberikan kita bekal salah satunya untuk menulis academic essay. Di telegram banyak sekali grup pencari beasiswa seperti Chevening, LPDP, dll jadi tidak ada salahnya untuk bergabung.
Bagiku perkara beasiswa mana yang didapatkan adalah masalah rejeki. Aku pribadi tidak terlalu masalah di negara mana aku belajar selama itu bisa mengimprove diri dan mendapatkan pembelajaran yang baik. Jadi, prinsipku adalah mencoba semua jalan karna kita tidak pernah tahu usaha mana yang akan berhasil untuk kita. Tapi ketika ada teman-teman yang menginginkan satu tujuan, bagiku juga tidak masalah. Justru sangat baik karna sebenarnya kita harus pasang target yang tinggi dan berusaha untuk mencapai itu. Fyi, aku gagal dalam aplikasi  Swedish Institute Scholarship. Dan Alhamdulillah jalannya memang melalui AAS. Di saat menunggu pengumuman, aku sudah mempersiapkan berkas untuk disubmit ke Chevening, ADB Scholarship, dan LPDP. Tapi aku yakin Allah sudah memberikan yang terbaik :)



4. GMAT / GRE

Sebaiknya teman-teman cek apakah target universitas kalian membutuhkan nilai GMAT/GRE. Rata-rata GMAT dibutuhkan untuk masuk ke business school, sedangkan GRE dibutuhkan untuk masuk ke engineering school. Tapi tidak semua universitas membutuhkannya. Bahkan ada juga business school yang menerima skor GRE sebagai pengganti GMAT. Teman-teman juga sebaiknya cek nilai rata-rata mahasiswa yang berhasil diterima sebagai target kalian. 


Aku sempat belajar GMAT karna dulu universitas di Eropa yang aku tuju memerlukan GMAT untuk masuk kesana. Dan apabila aku mendaftar beasiswa Fullbright, otomatis syarat GMAT harus terpenuhi untuk mendaftar kampus di Amerika. Meskipun pada akhirnya, ketika mendapatkan beasiswa Australia aku tidak perlu menggunakan GMAT, tp aku sangat tidak menyesal pernah belajar GMAT. Karna ini benar2 meningkatkan critical thinking kita. Kalau teman-teman ingin mendaftar MBA di Australia dan notabene membutuhkan GMAT, dari info yang aku dapat, para penerima beasiswa AAS tidak perlu melampirkan GMAT nya. What a privilege! Tapi kebetulan memang course yang aku ingin tuju di Australia juga tidak wajib melampirkan GMAT untuk pendaftarannya.



Kemarin aku sempat les di Sandy Institute di daerah Cikini dengan biaya 6 juta untuk 10 kali pertemuan. Teman2 bisa les pada hari sabtu atau minggu selama 6 jam pada setiap pertemuan. Mas Sandy, pengajarnya, sangat baik dan menurutku sangat membantu dalam memahami materi materi GMAT. Fyi, belajar GMAT ini harus benar-benar tekun. Enam bulan aku belajar, skorku belum tembus sampai nilai yang diinginkan. Itu salah satunya karna aku tidak tekun karna di satu sisi masih bimbang kemana kampus yang ingin dituju, yang perlu GMAT atau tidak perlu GMAT. Yang pasti tergantung apa beasiswa yang didapatkan hehehe. Tapi bagi teman-teman yang sudah pasti harus mendapatkan GMAT, jangan ragu untuk memulai.

5. Motivation Letter / Essay / Statement of Intent

Umumnya hal-hal tersebut dibutuhkan saat pendaftaran universitas maupun beasiswa. Secara teknis, formatnya akan berbeda-beda. Saat pendaftaran universitas, biasanya mereka mensyaratkan konten-konten tertentu yang harus ditulis dengan maksimal jumlah kata. Sama halnya untuk aplikasi beasiswa, hanya saja biasanya terdiri dari beberapa pertanyaan yang lebih detail seperti kontribusi apa yang akan dilakukan setelah selesai studi, dll. Tapi pada umumnya, kita harus berpikir bagaimana pengalaman masa lalu kita baik pendidikan maupun pekerjaan bisa berhubungan dengan studi yang akan kita pilih. Dan tentunya apa manfaat dari studi tersebut yang dapat kita aplikasikan setelah menyeledaikan studi. Aku menyiapkan banyak essay untuk berbagai aplikasi yang berbeda. Tapi kurang lebih isinya sama. Untuk benar-benar menulis, aku harus merenung dan memikirkan cukup lama tentang semuanya. Apa benar-benar ini yang aku butuhkan? Apa yang ingin kita pelajari? Sebenarnya mau jadi apa sih aku nantinya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang harus direnungkan baik-baik. Apalagi kalau kita belum cukup yakin dengan life path yang ingin kita pilih. Tidak ada salahnya untuk mulai merenung :)
 
Semoga tulisannya bermanfaat. Tunggu cerita mengenai pengalaman mendaftar beasiswa AAS dari aku ya! :D

Thursday, November 2, 2017

Two Months Already?

Hi, it's been almost two months after the graduation vibes. And I think it's too late to post any photo about that celebration. But, I just kinda miss it. Being away from home makes me realize that I should be grateful of everything I have. I experience a lot of new things. Stepping outside my comfort zone, where I have to live by my own. But yup, I kinda miss these things: My family, my dear friends, and absolutely home.