Showing posts with label scholarship. Show all posts
Showing posts with label scholarship. Show all posts

Wednesday, June 23, 2021

Tips Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa AAS (Australia Awards Scholarship) Versi Saya

Halo, nggak terasa udah enam bulan lebih sejak aku balik ke Indonesia. Dan nggak terasa dua tahun sekolah di Melbourne udah terlewati. Sebelumnya, aku udah nulis pengalamanku mendaftar beasiswa AAS, proses seleksinya, sampai pengalaman yang aku dapatkan sesampainya di Australia. Nggak nyangka karna tulisan di blog aku, banyak banget teman-teman yang akhirnya DM di instagram dan email untuk tanya-tanya lebih lanjut tentang beasiswa ini dan tips supaya lolos. Honestly, boleh dibilang aku sangat amat beruntung bisa lolos beasiswa ini. Yang ternyata dari tahun ke tahun proses seleksinya pun semakin ketat dan pastinya semakin banyak juga pendaftarnya.

Di post sebelumnya, aku sudah memberikan tips untuk tahap seleksi wawancara. Namun, untuk tahap seleksi administrasi yang berupa essay, aku belum menceritakan mengenai poin-poin apa yang aku tulis hingga Alhamdulillah bisa lolos ke tahap berikutnya. Btw, tips ini adalah versi aku ya! Tentu saja cerita orang-orang bisa berbeda tergantung point of view masing-masing. Banyak sekali sumber yang bisa kalian baca juga sebagai referensi. So, semoga tulisan ini membantu teman-teman untuk mendapat gambarannya. Tapi, sekali lagi, silakan ambil yang menurut kalian bermanfaat dan silakan diabaikan saja yang menurut kalian tidak perlu :)

--

Pada seleksi administrasi AAS, selain persyaratan dokumen, kita akan diminta menuliskan essay berdasarkan pertanyaan yang diajukan di website OASIS. Secara garis besar, ada empat pertanyaan yang setelah aku cek dari tahun ke tahun belum berubah hingga saat ini. Berikut adalah poin-poin yang bisa dibahas di setiap pertanyaan yang ada. Oke, kita bahas satu-satu ya!

Why did you choose your proposed course and institution?

  • Hubungkan past, present, dan future plan kita menjadi satu cerita yang berkaitan.
  • Ceritakan background kita dan jangan lupa highlight achievement-achievement di pekerjaan.
  • Sebutkan alasan yang kuat dari pengalaman kita, mengapa kita ingin melanjutkan studi S2 di bidang tersebut.
  • Hubungkan dengan studi prioritas yang diberikan AAS pada tahun tersebut.
  • Tunjukkan urgensi mengapa harus studi di Australia.
  • Highlight keunggulan course secara spesifik, seperti pengajar atau riset di jurusan dan universitas terpilih yang membedakan dengan universitas lainnya.


How will the proposed study contribute to your career?

  • Jelaskan goals dalam short term dan long term dengan spesifik.
  • Jelaskan secara spesifik course, program-program kuliah, atau pengalaman yang akan mendukung karir kita.
  • Jelaskan urgensi atau manfaat karir kita dan studi tersebut untuk Indonesia.


How have you contributed to solving a challenge and to implementing change or reform? (Be specific and include what aspect/s of your leadership knowledge, skills, and practice you consider to be well established and effective, which people or organizations you worked with to solve the problems; and what creative methods were used. 

  • Pilih pengalaman yang memiliki impact yang besar atau berkaitan dengan wider society. Aku pribadi prefer menceritakan satu pengalaman tapi lebih detail daripada menceritakan beberapa pengalaman tapi kurang bisa dieksplor.
  • Gunakan metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Di bagian result, kalau bisa diberi kuantifikasi hasilnya.
  • Highlight leadership, inovasi, dan impact yang dihasilkan. Misalnya, berikan penekanan bahwa temen-temen adalah orang yang menginisiasi atau memimpin project tersebut. Tapi ingat, jangan dilebih-lebihkan ya! Ceritakan sesuai dengan kejadian yang ada. Karna kalau ceritanya menarik, bisa jadi nanti digali lebih lanjut oleh pewawancara.


Please a)give up to three practical examples of how you intend to use the knowledge, skills, and connections you will gain from your scholarship. Possible tasks can be personal and/or professional; and b) list any possible constraints you think may prevent you from achieveing these tasks

  • Jelaskan secara spesifik rencana short term dan long term.
  • Jelaskan rencana karir dan purpose social yang berorientasi ke masyarakat luas.
  • Di bagian konstrain, bisa dijelaskan bagaimana cara kita untuk menghandle tantangan tersebut sehingga kita sudah terlihat siap.
--

Nah itu tadi kira-kira poin-poin yang aku bahas di essayku dulu ketika mendaftar di tahun 2018. Sudah cukup lama juga. Sekali lagi, ini tips lolos seleksi essay versi aku ya. Di luar sana, banyak sekali sumber yang bisa teman-teman jadikan sebagai pertimbangan juga. Dan perlu diingat, style penulisan setiap orang berbeda-beda! 

Tips lainnya tentu saja jangan malu untuk minta pendapat orang lain. Minta tolonglah teman atau orang-orang yang sudah memiliki pengalaman serupa untuk proofread. Buat aku pribadi, semakin banyak akan semakin baik. Namun, jangan sampai kita jadi pusing juga untuk memilah-milah mana saran yang cocok.

Mungkin sekian dulu sharing dari aku. Silakan ambil bagian yang menurut teman-teman bermanfaat. Good luck untuk semuanya yang sedang memperjuangkan beasiswa untuk sekolah lanjut!

Thursday, July 2, 2020

My AAS Journey Part 4: Introductory Academic Program

Alhamdulillah, akhirnya aku menyelesaikan semester ketiga di tengah-tengah pandemi ini. Aku pribadi merasa kurang bersemangat semester ini karna semua kuliah dan ujiannya online. Tapi tetap harus bersyukur!

Karna periode pendaftaran AAS 2020 sudah lewat dan kemaren sempat ada beberapa orang yang email juga terkait pendaftaran, di kesempatan kali ini mungkin aku akan sedikit berbagi mengenai persiapan yang aku lakukan sebelum memulai perkuliahan di Australia. Tapi karna ini terjadi di awal tahun lalu, aku sedikit lupa-lupa ingat. Semoga pesannya tetap bisa tersampaikan ya :) 

Persiapan keberangkatan


Seperti di post sebelumnya, setelah dinyatakan lolos beasiswa AAS, kita akan melaksanakan Pre-Departure Training (PDT) yang durasinya disesuaikan dengan hasil tes IELTS kita. Setelah periode PDT selesai, yang kita lakukan hanyalah mempersiapkan keberangkatan kita. Pihak AAS sendiri yang akan membantu semua keperluan keberangkatan kita. Mulai dari pendaftaran ke universitas, visa, dan tiket. Jadi, kita tidak perlu khawatir karna semuanya akan ter-manage dengan baik. Program PDT ku sendiri berakhir pada akhir Oktober, yang artinya aku punya waktu sekitar 2 bulan untuk pulang ke Jogja. Sebelum berangkat, aku sudah mulai mencari akomodasi di mailing list komunitas IndoMelb. Jadi untuk urusan akomodasi sudah bisa beres sebelum berangkat. Alhamdulillah, aku langsung mantap dengan akomodasi yang aku booking, yaitu akomodasi yang sebelumnya juga ditinggali oleh orang Indonesia. Beberapa teman juga ada yang memutuskan untuk tinggal di akomodasi temporer dan mencari lebih detail ketika sudah sampai di Melbourne.

Nantinya pihak kampus juga akan menghubungi kita untuk mengurus administrasi secara online, seperti update data diri. AAS sendiri mempunyai perwakilan Student Contact Officer di masing-masing kampus, sehingga mereka bisa memantau para awardee dan membantu keperluan yang kita butuhkan. Apabila kita kesulitan mencari akomodasi, merekalah yang juga akan membantu kita. 

Hari H Keberangkatan


Keberangkatan diatur oleh pihak AAS. Kita akan diberangkatkan beberapa minggu sebelum perkuliahan dimulai karna kita harus mengikuti Introductory Academic Program (IAP). Program ini mirip bentuknya dengan PDT yang dilaksanakan di Indonesia, akan tetapi IAP diadakan langsung di universitas yang kita tuju.  Rombongan Unimelb di angkatanku berangkat pada tanggal 14 Januari 2019 untuk memulai program IAP pada tanggal 21 Januari 2019. Semua awardee dari berbagai daerah tujuan akan berkumpul di Jakarta. Jujur agak lupa juga apakah ada yang berangkat dari Bali. Kemudian kami transit di Sydney dan sampai di Melbourne keesokan harinya. Di bandara, ada pihak kampus yang menjemput kita. Jadi, masing-masing akan diantarkan ke akomodoasi kita. 



Mentoring Session


Para awardee juga akan mendapatkan mentor yang merupakan AAS awardee juga di kampus tujuan. Satu kelompok mentoring terdiri dari beberapa mentee dengan satu mentor. Biasanya akan diassign sesuai negara masing-masing. Nantinya, mentor akan mengontak kita dan membantu kita dalam persiapan keberangkatan. Karna kami sampai pada tanggal 15 Januari dan IAP baru dilaksanakan minggu depannya, kami memiliki beberapa hari untuk mengurus beberapa keperluan. Keesokan harinya, kami diminta datang ke kampus untuk registrasi. Di sana kami bertemu dengan Student Contact Officer (SCO) yang juga menyambut kita dan menjelaskan beberapa hal. Mentor kita juga akan ada disana dan membantu kita. Selanjutnya, mentor akan mengajak kita keliling kampus dan mengurus beberapa keperluan seperti kartu mahasiswa dan juga akun bank. 

Kelompok Mentoring

Campus Tour

Introductory Academic Program


IAP dimulai pada tanggal 21 Januari 2019. Di hari pertama, para awardee AAS dari berbagai negara akan berkumpul. Di Unimelb sendiri, dari tahun ke tahun awardee AAS adalah yang terbanyak dibandingkan dengan kampus lainnya di Melbourne. Di tahunku, Awardee Indonesia mungkin sekitar 30 an orang dari sekitar 100 sekian total awardee.

Hari pertama IAP, performance music traditional khas Aborigin

Program IAP bertujuan membantu kita agar lebih lebih familiar dengan sistem pembelajaran, fasilitas, dan juga lingkungan kampus. Aku pribadi merasa sangat beruntung bisa mengikuti program ini. Karna dibandingkan dengan mahasiswa lain, kita akan jauh lebih siap ketika kuliah dimulai karna kita sudah melalui masa orientasi yang jauh lebih panjang dan detail. 

IAP memiliki durasi yang berbeda-beda untuk setiap kampus. Maka dari itu, keberangkatan para awardeenya pun bisa berbeda-beda. Untuk Unimelb sendiri, IAP berdurasi sekitar 5 minggu. Kurang lebih materi yang diberikan mirip dengan yang kita dapatkan di PDT. Jadi sebenarnya mungkin agak sedikit bosan. Hahaha. Tapi tujuannya adalah mengenalkan kita juga dengan beban perkuliahan dan melatih kita untuk bekerja dalam tim, terutama dengan mahasiswa dari negara lain. Karna di IAP kita akan bercampur dengan awardee dari negara lain. Hal ini bisa benar-benar mempersiapkan kita untuk bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai macam background.

IAP sendiri berlansung dari hari Senin hingga Jumat, dengan jam yang lebih pendek di hari Jumat. Di pagi hari kelas akan dimulai pukul 9.30 AM. Biasanya kita akan ada sesi di main auditorium, dimana semua awardee akan berkumpul. Biasanya materinya bersifat general terkait info-info seputar kampus, seperti bagaimana menggunakan fasilitas library, kegiatan ekstra curricular, dll. Kemudian akan ada break untuk morning tea selama setengah jam, dimana kita akan disediakan free snack. 

Free snack



Setelah itu, akan ada kelas Tutorial selama dua jam. Pengajar IAP sendiri biasanya adalah mahasiswa PhD di Unimelb. Kita akan diajarkan tentang critical thinking, berargumen, dan cara menulis yang baik. Pembagian kelasnya pun berdasarkan latar belakang awardee yang cukup diverse. Di kelas ini, kita juga akan dibentuk grup untuk membuat video mengenai Australia. Tujuannya adalah agar kita dapat mengenal Australia lebih lanjut. 



Bersama teman-teman kelompok video

Proses pembuatan video

Teman-teman kelas Tutorial






Setelah sesi kelas tutorial, kita akan ada break untuk makan siang dan sholat. Untuk makan siang, kita harus membawa bekal sendiri karna tidak disediakan hehe. Selanjutnya akan ada kelas Workshop selama 2 jam. Pembagian kelas ini adalah berdasarkan bidang studi yang kita ambil. Di kelas ini, kita akan lebih berlatih menganalisis academic essay yang kita pilih sendiri dan belajar membuat essay dalam kelompok. Kita akan berlatih presentasi juga karna tugas ini akan kita presentasikan di akhir periode IAP.

Teman-teman Kelas Workshop
IAP tidak selamanya soal belajar kok! Karna ada hari dimana kita belajar untuk lebih percaya diri dengan kegiatan teater yang diadakan di kampus Melbourne Souttbank. Selain itu, ada juga hari khusus untuk excursion, dimana kita diperbolehkan memilih salah satu destinasi wisata di Melbourne secara gratis. IAP sendiri tidak akan menyita banyak waktu kita, sehingga kita bisa jalan-jalan di sela-sela kegiatan atau di akhir pekan. 

Excursion Day to Yarra River

Bersama AAS Awardee se-Victoria

Sempat nonton Harry Potter Play juga

Saint Kilda Festival

Kelas Teater dengan seluruh AAS Awardee Unimelb

Wisata pertama kali dengan AAS Club Unimelb ke Sorento Beach


Setelah IAP selesai, akan ada jeda 1 minggu sebelum kegiatan perkuliahan dimulai pada bulan Maret 2019. Jadi di jeda 1 minggu itu, kita bisa mengikuti orientasi resmi yang diadakan oleh pihak universitas maupun fakultas.


Penutupan IAP

Bersama Ruth, pengajar di Kelas Tutorial

Sekian ceritaku mengenai fasilitas-fasilitas yang bisa kita dapatkan sebagai AAS Awardee. Aku pribadi merasa sangat bersyukur dengan fasilitas ini. Bahkan ketika kita sudah berkuliah, SCO akan selalu memantau perkembangan kita dari segi akademis dan juga mengirimkan banyak info menarik mengenai kesempatan-kesempatan yang ada. Selain itu, sebagai AAS Awardee kita akan mendapatkan entitlement untuk menunjang akademik kita dengan satu sesi konsultasi / tutorial gratis dengan pakarnya. Jadi tidak perlu khawatir! Deborah dan Catherine adalah SCO Unimelb. Mereka sangat baik dan fast response! 

Pengalaman IAP sendiri mungkin akan jauh berbeda per kampus. Karna AAS Awardee Unimelb jumlahnya cukup banyak, mungkin kegiatannya juga lebih terstruktur dan komprehensif. 

Overall, semoga sharing ini bisa memberikan sedikit gambaran ya! Goodluck untuk teman-teman yang sedang mengusahakan beasiswa. Semoga dimudahkan dan dilancarkan perjuangannya. Aamiin.

Di acara Australia Awards Victoria






Thursday, January 10, 2019

My AAS Journey Part 3 : Pre Departure Training Australia Awards Scholarships 2018


Hai, ini H-3 sebelum aku berangkat ke Australia. Rasanya ingin merapel semua catatan mengenai proses AAS ini sebelum aku berangkat. So, here we go!

Pengumuman Hasil Seleksi Beasiswa
Ketika seleksi wawancara, peserta diberi tahu bahwa hasil seleksi akan diumumkan pada pertengahan Agustus 2018. Namun, ternyata pengumuman yang ditunggu-tunggu belum juga ada hingga waktu yang diinfokan. Di grup telegram AAS dan whatsapp yang aku ikuti, kami sudah harap-harap cemas. Aku dan beberapa peserta lain juga mencoba mengontak Help Desk AAS namun setiap hari jawabannya adalah “masih belum”. Sampai akhirnya, hari itu pun tiba. tanggal 28 Agustus 2018 sekitar pukul setengah 5 sore, grup shortlisted di whatsapp mulai ramai karena kabarnya di kaskus sudah ada orang yang mengabarkan bahwa dirinya dinyatakan lolos sebagai awardee. Screenshotan email juga sudah beredar di grup. Akan tetapi, belum ada satu pun dari kami di dalam grup itu yang mengaku bahwa sudah mennerima hasil seleksi. Dengan harap-harap cemas kami menunggu dengan sabar.

Hingga pukul 7 malam, aku belum menerima email hasil seleksi. Jam 8, 9, 10 malam, email yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Aku pun mengirim chat di grup keluarga dan ke teman terdekat bahwa mungkin aku tidak diterima. Sebelumnya aku juga sudah menghubungi Help Desk AAS dan mereka menyatakan bahwa pengumuman akan dikirimkan hari itu juga. Jadi saat itu aku merasa bahwa besar kemungkinan aku tidak diterima karna hingga larut malam, email kelulusan belum juga aku dapatkan. 

Tiba-tiba saja ada notifikasi email di HP ku bertuliskan "Australia Awards in Indonesia 2018 – Selection Outcome" tepat pukul 23.00 WIB. Aku segera membaca isi email dan attachment itu berulang-ulang kali saking tidak percayanya. Aku sangat sangat sangat bersyukur. Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan ini. Jadi, ketika di hari H pengumuman kalian belum mendapatkan email, tunggu saja dengan sabar. Karna bisa jadi email akan datang sangat-sangat larut. Bahkan ada teman di grup yang menerima hasil seleksi pukul 2.00 pagi keesokan harinya. Bersamaan dengan email notifikasi kelulusan, ada scholarship acceptance form yang harus kita tanda tangani.

Pre-Departure Training
PDT harus diikuti oleh semua awardee AAS tanpa terkecuali sebagai syarat untuk melaksanakan studi ke Australia. Durasinya berggantung pada hasil tes IELTS yang kita dapatkan. Untuk awardee dengan overall band 6.5 ke atas dan masing-masing band tidak ada yang dibawah 6, akan masuk ke kelompok PDT 7 Weeks. Sedangkan jika overall 6.5 ke atas, namun ada band yang di bawah 6, maka akan masuk ke kelompok PDT 9 Weeks. Setauku juga ada kelompok PDT untuk 4.5 bulan dan 9 bulan. Lokasi PDT adalah di Jakarta dan Bali. Di Bali hanya lah untuk para awardee yang berasal dari daerah timur. PDT bermaksud untuk mempersiapkan para awardee dalam mendaftar ke universitas yang dituju dan mempersiapkan para awardee untuk studi di Australia nantinya. Universitas di Australia rata-rata membutuhkan nilai IELTS overall 6.5 dengan tidak ada individual band yang dibawah 6.

Aku sendiri masuk ke dalam kelompok 7 Weeks. Lokasi PDT di Jakarta sama dengan lokasi tes IELTS dan interview, yaitu di IALF Jakarta Plaza Kuningan. Kelompok 7 Weeks dan 9 Weeks memulai kegiatan PDT bersamaan yaitu pada tanggal 6 September 2018. 7W menyelesaikan PDT pada tanggal 19 Oktober 2018, sedangkan 9W masih harus melakukan tes IELTS di akhir PDT untuk mendapatkan nilai individual band di atas 6. Menurutku, beasiswa AAS sungguh sangat menguntungkan bagi para awardee. Di saat seleksi, kita akan mendapatkan tes IELTS gratis yang nantinya akan dipakai untuk mendaftarkan diri ke universitas. Sedangkan apabila nilainya belum cukup, kita akan dipersiapkan di PDT untuk mengikuti tes lagi yang biayanya ditanggung oleh AAS. Bagi awardee PhD juga akan ada tambahan pembekalan 2 minggu lagi.

Oiya, selama PDT, kita juga akan mendapatkan stipend yang jumlahnya sekitar 3 juta rupiah setiap bulannya di mulai sejak tanggal PDT hingga keberangkatan. Dalam kasusku, berarti mulai dari Agustus hingga Desember 2018. Bagi pekerja swasta sepertiku yang harus resign dan sudah tidak menerima gaji lagi, hal ini sungguh berarti hehehe. Apalagi stipend ini bisa membantu membiayai kebutuhan di Jakarta selama PDT berlangsung.

Dokumen yang diperlukan
Ada waktu kurang dari seminggu bagiku untuk menyiapkan dokumen-dokumen PDT. Aku harus pulang ke Yogyakarta untuk mengurus dokumen-dokumen tersebut. Tiket PP ke lokasi PDT juga akan dibiayai oleh AAS apabila lokasi asal sesuai dengan alamat yang ada di KTP. Berikut adalah dokumen-dokumen yang diperlukan saat PDT:
a. Surat Keterangan Catatan Kepolisian asli
Aku harus pulang untuk mengurus ini karna SKCK hanya bisa diurus di daerah asal.
b. Foto 3x4
c. Akun bank BCA
Semua awardee diwajibkan mempunyai rekening BCA karena stipend hanya akan dikirimkan ke rekening BCA
d. Akta kelahiran / passport
e. Ijazah S2 dan/ atau S1 (menyertakan ijazah D3 bagi lulusan D4)
f. Transkrip nilai S2 dan/atau S1 (menyertakan transkrip D3 bagi lulusan D4)

Agenda selama PDT
Selama PDT, ada beberapa agenda yang dilaksanakan.
a. Initial Briefing
Pada sesi ini, kita akan diberikan informasi secara menyeluruh tentang beasiswa AAS.
b. HAP (Health Assessment Portal) Training
Sebagai salah satu syarat mengajukan visa, kita diharuskan untuk melakukan medical check up. HAP Letter merupakan dokumen yang diperkukan dalam health assessment process. Biaya medical check up akan dibiayai oleh pihak AAS.
c. Placement and Mobilisation briefing
Kita akan memperoleh informasi tentang universitas, proses visa, pemberangkatan, dll.
d. Online Visa Training
Kita akan dipandu untuk apply visa. Semua akan dibantu pengurusannya oleh pihak AAS.
e.  Course Information Day
Salah satu hal yang menurutku sangat baik dari beasiswa ini adalah kita diberikan sesi untuk mengenal universitas-universitas Australia dengan lebih baik secara langsung. Di pos sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa pada saat aplikasi kita diwajibkan memilih 2 pilihan universitas. Namun, ketika sudah menjadi awardee beasiswa, kita berhak untuk mengganti pilihan universitas apabila ternyata setelah mempelajari lebih lanjut, kita merasa pilihan sebelumnya tidak sesuai. Yang perlu digaris bawahi adalah kita diperbolehkan mengganti universitas, asalkan bidang/jurusan yang dipilih sesuai dengan pilihan awal kita. Sesi ini merupakan sesi pameran yang sebenarnya dibuka untuk umum, namun sesi pagi adalah khusus untuk awardee AAS. Jadi kita bisa dengan leluasa bertanya dengan para perwakilan universitas. Apabila nantinya kita memutuskan untuk mengubah pilihan universitas, alasannya harus dijelaskan secara jelas. Proses pendaftaran ke universitas sendiri akan diurus oleh pihak AAS setelah kita mengisi form final decision pilihan universitas yang akan kita tuju. Apabila ada dokumen lain yang diperlukan, pihak AAS akan memberi tahu kita.


f. Pre-Departure Briefing
Sesi ini merupakan summary dari semua persiapan kita ke Australia. Pada sesi ini, AAS menghadirkan pembicara dari kementrian dan alumni dimana kita bisa bertanya kepada mereka.





Selama PDT, kita akan belajar mengenai english for academic purpose, critical literacy skill, learning strategies and study skill, serta cross culture skill. Ada juga tugas-tugas yang harus dikerjakan seperti discussion essay, research paper, dan academic poster presentation. Overall, aku sangat menikmati masa-masa PDT ini karna aku bisa berkesempatan untuk bertemu banyak orang baru. Selain itu, AAS benar-benar memberikan kita kesempatan untuk mempersiapkan diri menuju perkuliahan di Australia seperti dengan meningkatkan academic writing skill, dll. Fasilitas yang diberikan di IALF juga sangat cukup untuk menunjang apa yang kita kerjakan.

Untuk awardee yang sudah diterima di universitas masing-masing akan diberangkatkan pada semester 1, yaitu pada bulan Januari 2019. Sementara awardee yang mengikuti PDT lebih lama atau harus defer, akan diberangkatkan pada semester 2, yaitu pada pertengahan tahun. Untuk kasus defer, harus dikomunikasikan dengan pihak AAS secara langsung. Di Australia, para awardee juga diwajibkan untuk mengikuti IAP (Introductory Academic Program). Jadi, awardee AAS akan berangkat lebih dulu sebelum orientasi dari universitas berlangsung untuk dipersiapkan terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan akademik. 




Cross Cultural Class with Barbara
Poster Presentation
7 Week 5 Class
Kelas yang rame banget, kebanyakan ketawanya daripada seriusnya. How I miss this class and all the silly things inside. Seru banget! Seneng banget bisa kenal sama semuanya. Spesial thanks to Kak Gio, Kak Mona, Kak Dina, Mas Puji, Kak Dayu, Mas Arya, Mas Denny, Kak Bubuw, Mas Todo, Mas Ray, Mas Sani, Mas Guin, Kak Arti, Kak Indri, Mas Agus, & our funny teacher Steve yang udah bikin hari-hari PDT semenyenangkan itu. Wishing you the best guys for your study and future career! :D

Batik Day



Makan-makan #1




Makan-makan #2
Makan-makan #3
Nonton dan jalan-jalan
Our last day of PDT


Overall, menurutku banyak sekali keuntungan-keuntungan yang didapatkan ketika mendapatkan beasiswa AAS ini. I thank Allah for His blessings and thank you Australia Awards for this rewarding opportunity. Semoga sharing yang aku tulis di blog tentang beasiswa AAS ini bermanfaat ya! :)


My AAS Journey Part 2: Seleksi Tahap 2 Australia Awards Scholarships 2018 (JST Interview dan Tes IELTS)


Menyambung tulisan sebelumnya mengenai seleksi tahap pertama untuk beasiswa AAS, di post kali ini aku akan berbagi pengalaman mengenai seleksi tahap kedua yaitu interview dan tes IELTS. Setelah menerima kabar bahwa aku lolos interview, aku berusaha menyiapkan diri sebaik mungkin. AAS akan memberi tahu dimana kita akan melakukan tes. Untuk tahun 2018, seleksi diadakan di beberapa kota yaitu Jakarta, Aceh, Papua, Kupang, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Mataram, dan Ambon. Untuk di Jakarta sendiri lokasi tes berada di IALF (Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris), Plaza Kuningan.

a. Tes IELTS
Di undagan tercantum bahwa seharusnya aku melaksanakan tes IELTS pada tanggal 7 Juli 2018. Namun, karena hasil tes IELTS yang aku gunakan untuk mendaftar AAS adalah hasil tes yang aku dapatkan pada bulan April 2018, hasilnya masih dianggap baru dan valid. Sehingga tes IELTS dalam rangka seleksi ini bisa ditangguhkan. Aku hanya perlu mengirimkan hasil tes IELTS asliku ke kantor Australia Awards Indonesia. Hasil IETLS yang dikategorikan sebagai hasil yang baru adalah tes yang dilaksanakan dalam kurun waktu 3 bulan terkahir dari jadwal tes IELTS kita masing-masing. Jadi meskipun dilakukan pada tahun yang sama, jika melebihi 3 bulan, maka tes IELTS harus tetap dilakukan. 

AAS tidak mencari orang yang bisa mendapatkan nilai IELTS setinggi-tingginya. Yang terpenting sudah mencapai batas minimal band yaitu 5,5. Hasil tes IELTS kemudian akan digunakan untuk menentukan masa Pre-Departure Training yang akan dilaksanakan oleh awardee sebelum berangkat ke Australia. Semakin tinggi nilai yang kita dapatkan, maka durasi Pre-Departure Training yang akan kita tempuh semakin singkat. Di post sebelum-sebelumnya aku sudah membagikan kiat-kiat yang aku lakukan dalam menghadapi tes IELTS. Semoga bisa bermanfaaat :)

b. Interview akademik dengan Tim Seleksi Bersama (Joint Selection Team)
Interview ini dilakukan oleh Tim Seleksi Bersama antara pihak Indonesia dan Australia. Untuk program master, tim seleksi terdiri dari 1 orang Indonesia dan 1 orang Australia. Sedangkan untuk program PhD, tim seleksi terdiri dari 2 orang Indonesia dan 2 orang Australia. Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa melihatnya di video berikut:


Yang aku suka dari beasiswa ini dan pengelolanya, dari awal semua informasi diberikan secara transparan. Bahkan sebelum interview, kita sudah diberi tahu akan seperti apa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dan poin-poin penilaiannya. Jadi, kita benar-benar bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dalam interview ini ada 3 hal yang ditekankan, yaitu kompetensi akademik, atribut kepemimpinan professional dan personal, serta hasil potensial.

Aku dijadwalkan untuk melakukan seleksi wawancara pada tanggal 25 Juli 2018 di IALF Kuningan. Karna aku mendapatkan notifikasi bahwa aku dinyatakan sebagai shortlisted candidate pada tanggal 13 Juni 2018, jadi aku memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Rata-rata teman-teman yang berada di luar kota Jakarta melaksanakan seleksinya terlebih dahulu. Aku sangat bersyukur karena memiliki waktu persiapan yang lebih. 

Jadi apa saja yang aku lakukan untuk mempersiapkan diri?

a. Banyak membaca dan mencari referensi di internet mengenai wawancara beasiswa
Sejak dinyatakan lolos, aku banyak sekali membaca bahan-bahan tentang wawancara beasiswa di internet baik tulisan di blog atau video di youtube. Di internet banyak sekali materi yang bisa teman-teman lihat dan menurutku semuanya sangat membantu. Karna awal mula aku tahu beasiswa ini dari salah satu dosen UGM yang pernah aku hadiri seminarnya, Bapak I Made Andi Arsana, tentu saja aku juga banyak membaca dari blog yang beliau tulis. Blog beliau sangat membantu karna disana kita bisa menemukan list pertanyaan wawancara yang biasanya dikeluarkan. Tapi selain itu, aku juga mendapatkan banyak sekali referensi dari sumber-sumber lainnya. Tidak hanya tentang pertanyaan tapi juga tentang bagaimana kita bersikap dalam menghadapi wawancara tersebut.


b. Membuat daftar pertanyaan pribadi dan mempersiapkan jawabannya
Setelah mengumpulkan referensi dari berbagai sumber, aku mencoba untuk membuat daftar pertanyaanku sendiri dan jawaban yang harus aku siapkan. Kira-kira aku membuat lebih dari 70 daftar pertanyaan dan jawaban. Jadi, bagaimanapun bahasa yang digunakan oleh si pewawancara untuk menanyakan suatu hal, kita harus siap menjawabnya dengan jelas.

c. Membaca dan menggali informasi lebih tentang Australia dan Indonesia
Tidak hanya soal kampus atau cara kita beradaptasi di sana nantinya, tapi kita harus paham mengenai hubungan Indonesia dan Australia saat ini. Bagaimana hubungan ekonomi, politik, dan kerjasama lainnya. Selain itu, isu-isu yang ada di Indonesia sendiri harus kita perhatikan. Seperti apa saja urgensi masalah yang harus diselesaikan, dll.

d. Meminta orang-orang terpercaya untuk melakukan proofreading essay / poin-poin penting wawancara
Dalam wawancara beasiswa, poin penting yang akan dibahas adalah mengenai past, present, dan future. Jadi meskipun aku memiliki banyak sekali daftar pertanyaan, poin-poin krusial dalam wawancara lah yang harus kita perhatikan. Aku melihat lagi essay yang aku tulis dan poin-poin penting yang harus aku sampaikan. Aku membuat draft khusus untuk beberapa poin pertanyaan penting yang aku bagikan ke keluarga dan beberapa teman. Aku meminta tolong mereka untuk mengoreksinya dan memberikan feedback tentang apa yang masih tidak jelas dan harus diperbaiki. Terimakasih banyak untuk Bunda, Mas Aji, Mas Hibran, Mas Sandy, Shafa, Icha, dan Karin. Mungkin kadang kita tidak merasa percaya diri untuk membagikan hal-hal seperti itu kepada orang lain, tapi justru dengan feedback yang diberikan oleh orang lain, kita bisa merasa lebih percaya diri untuk menghadapi wawancara. Jadi, jangan sungkan untuk membagikannya dengan orang-orang terdekat yang bisa kita percaya.

e. Bertanya kepada orang-orang yang sudah memiliki pengalaman wawancara
Ketika tau aku mendaftar beasiswa ini, Karin, temanku memberikan aku kontak kenalannya yang juga awardee AAS. Beruntunglah aku bisa menghubungi Mba Icha untuk menanyakan beberapa hal. Selain itu, beberapa hari sebelum wawancara, aku juga menghubungi Mas Nabil yang kontaknya aku dapat dari Mas Anton untuk share pengalaman wawancara. Karna kebetulan Mas Nabil sudah officially menjadi awardee tahun sebelumnya tapi terpaksa harus defer. Beruntungnya aku juga sempat mendapatkan saran via chat dari Bapak Made Andi. Well, rasanya kalau kita punya kesempatan sharing dengan orang-orang yang sudah melaluinya lebih dulu, persiapan kita menjadi lebih matang.

f. Latihan wawancara
Selain membaca, berlatih wawancara secara lisan sangatlah perlu agar kita tidak tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan. Terimakasih Prinka, rommateku sewaktu itu yang sudah berbesar hati melihatku harus latihan wawancara setiap malam di kos hehehe.

g. Berdoa dan meminta doa restu
Aku percaya bahwa kekuatan doa itu sangatlah penting. Ketika mendapatkan email notifikasi bahwa aku dinyatakan shortlisted, aku menghubungi keluarga dan beberapa teman terdekat. Salah satunya untuk minta didoakan yang terbaik dalam proses ini. 

Hari H wawancara
Tanggal 25 Juli 2018, aku berangkat ke IALF cukup awal dibandingkan dengan perserta lain karna ternyata kosku sebegitu dekatnya dengan lokasi hahaha. Pukul 8 kurang aku sudah sampai di lokasi dan Bapak Penjaga mengantarku untuk menunggu di aula IALF. Disitu kami bisa melihat di papan mengenai grup wawancara kami masing-masing. Kalau tidak salah ingat, grup 1 adalah grup untuk wawancara PhD yang berisi 4 orang pewawancara. Sedangkan sisanya adalah grup untuk wawancara Master yang berisi 2 orang pewawancara. Dalam 1 grup sendiri, pewawancara akan mewawancarai setidaknya 5 orang dengan estimasi waktu 20 menit untuk master. Sedangkan untuk PhD mungkin sedikit lebih lama karena dalam 10 menit pertama peserta harus mempresentasikan proposal penelitian mereka.

Acara dibuka kurang lebih pukul 9 oleh salah satu tim pewawancara. Ada briefing dulu yang disiapkan untuk peserta. Disitu kami diperkenalkan terlebih dahulu kepada para pewawancara. Bahkan kami diberi tahu pewawancara ini ada di grup yang mana. Mereka memperkenalkan nama mereka dan juga background pendidikan mereka. Yang pasti, disini kita harus jeli. Alangkah lebih baik jika kita tahu nama mereka sehingga kita bisa menyapanya di ruang wawancara. Tahu backgroundnya juga adalah nilai plus, jadi kita bisa memperkirakan apa bidang yang dikuasai mereka. Ternyata mereka semua sangat ramah. Dari hari sebelumnya, aku meresa sangat deg deg an. Tapi justru mereka semua memberi motivasi yang seakan menghilangkan ketakutan. Pada sesi itu dibuka juga sesi Q&A, jadi kami bisa menanyakan hal-hal yang dirasa kurang jelas.

Aku mendapatkan urutan nomor dua di grup wawancaraku. Kebetulan kedua pewawancaraku bukan berasal dari bidang yang sama dengan bidang yang aku daftar. Overall, dari pengalaman wawancara yang aku lakukan, aku merasa tidak di jugde sama sekali atas jawaban-jawaban yang aku lontarkan. Ketika aku menjawab sesuatu yang dirasa kurang pas, bahkan mereka akan memberi saran yang menurutku oh iya benar juga ya…. Aku merasa wawancara ini seakan seperti sharing yang menyenangkan. Untuk pertanyaan-pertanyaannya, ini adalah beberapa pertanyaan yang aku ingat.

a. Hubungan past, present, dan future kamu seperti apa?
Menurutku ini adalah kesempatan dimana kita bisa melakukan pitching. Karna pertanyaan ini sangat luas jawabannya. Jadi persiapkan jawaban pertanyaan ini dengan baik. Take your time about 1,5-2 minutes untuk menjawab pertanyaan ini sejelas-jelasnya. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya kurang lebih akan mengikuti jawaban yang kita lontarkan untuk menjawab pertanyaan ini.
b. Kamu kan melenceng banget ya ambil studi yang tidak linear dengan background S1 kamu. Bagaimana cara kamu mengatasinya?
Well ada banyak pertanyaan printilan tentang berpindah jurusan ini. Aku bisa melihat di wajah mereka, ada keraguan yang sangat mendalam terhadapku hehehe. Jadi buat teman-teman yang berkeinginan untuk pindah jurusan, kalian benar-benar harus menyiapkan jawaban yang jelas-sejelasnya. Jadi kalau ditanya apakah bisa cross major? Bisa, asal hubungan past, present, dan future kita ada benang merahnya.
c. Apa perbedaan dua universitas yang kamu pilih?
Aku sudah pernah menjelaskan kalau kita berhak memilih dua universitas pada aplikasi kita. Disini mereka akan membahas dua universitas ini. Jangan bahas hanya soal rankingnya aja. Tapi lebih ke course, pengajar, dan juga jurnal-jurnal yang diterbitkan. Banyaklah membaca. Jadi kita bisa benar-benar paham mengapa kita memilih universitas dan jurusan tersebut.
d. Apa pengalaman yang kamu dapat selama kamu bekerja dan kuliah?
Mereka membahas pengalaman-pengalaman di pekerjaan, perkuliahan, dan lingkungan sosial.
e. Di essay kamu menuliskan blablablabla? Apa yang kamu maksud dengan ini?
Mereka akan sedikit banyak kembali membahas essay yang kita tulis pada aplikasi. Jadi, kita harus benar-benar paham tentang apa yang kita tulis. Apabila memang our first essay is not our best version, alangkah baiknya kita menjelaskan lagi disini agar pewawancara bisa menangkap maksud kita.

Percayalah bahwa waktu di ruang wawancara akan terasa amat singkat. Jadi berikan jawaban-jawaban sejelas-jelasnya. Bahkan keluar dari ruang wawancara, aku masih sangat tidak yakin terhadap jawaban-jawaban yang aku berikan. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Pasrah dan tawakkal sama Allah :) 

Selepas wawancara, aku kembali ke aula IALF dan bertukar cerita dengan para peserta lain. Kami semua sama-sama merasa tidak yakin tapi merasa sangat lega. Karna feedback yang kami dapat benar-benar positif. Tidak ada komentar-komentar menggurui. Meskipun menurutku, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh pewawancara Australia yang ada di grupku sedikit lebih demanding. Well, itulah pengalaman pertamaku dalam wawancara beasiswa. Jadi, aku tidak bisa membandingkannya dengan wawancara beasiswa lain. Tapi aku harap ini bisa membantu kalian untuk menghadapi wawancara beasiswa :)